Ketika saya berbicara, berbagi, dan bercerita dengan diri sendiri, saya percaya
selain Tuhan yang Maha Mendengar Tuhan-pun ikut berdiskusi dan menenangkan
hati.
Senin, 29 Desember 2014
Senin, 24 November 2014
People Change…
The words that can’t be described
clearly but absolutely be able to feel
People, a human who has
capability to do all what they want. Normal people can taste, can hear, can
speak, can think, can see. But we know none people can’t feel.
All around us happens depend on
what we believe, what we think, and what we do. Plus exist because minus exist.
The dimension we haven’t find
yet, is that still we looking for ? space, time, could us count it ?
There is no determinate scale in
this life, we just make it simple.
Menapaki
materi semu yang tak pasti di bumi ini. Tak perlu bertanya kita dimana
akhirnya. Tiada yang memastikan unit
satuan apa yang ada dalam hidup ini, angka dan huruf pun yang dengan jelas bersama
tak pasti rupa dan banyaknya.
Waktu…
Adakah
yang dapat memberikan saya pandangan bagaimana saya dapat mendefinisikan Waktu? Yang saya tahu kuasa Tuhan adalah
interpretasi dari waktu itu sendiri. Dapatkah kita mengendalikan dimensi waktu
? yang saya tahu semua kehidupan terkendali karena adanya waktu. Dan yang saya
pahami tiada orang di muka bumi dapat memiliki waktu. Saya menyadari begitu
dangkal pengetahuan tentang Waktu
ini.
Saat
kalian menyadari bahwa orang-orang sekitar tak terikat dengan waktunya, lalu
mengapa masih menyandingkan mereka pada waktu kala itu. Apakah mereka bisa pergi ke waktu itu lagi
? apakah mereka bisa mengulangi kejadian
di waktu itu ? atau apakah waktu dapat mengajaknya berkunjung kembali ? Walau
bumi berputar tiada henti lalu mengulang dan terus berulang untuk berputar
apakah waktu dapat terulang?, dapat berputar ? Yang saya pahami waktu tak akan
memberi hal yang sama untuk kedua kalinya kepada orang yang sama. Past still be
past and never be future, but future by the time goes by it will be past.
Adakah
ukuran, satuan, ataupun standar dalam mengartikan Kedewasaan ? banyak orang
keliru arti harfiahnya kedewasaan itu sendiri. Waktu, tindakan, pengalaman,
pembelajaran, dan keputusan, adalah circle
dari kedewasaan.
Tidak
ada definisi kedewasaan dengan pasti bagi saya. Yang ada hanya manusia terus
berubah menjadi yang lebih baik dalam pandangan mereka sendiri,
bagaimana kelajuanya ? kelajuan itu vector, yang ada nilai ada arah. Maka dari
itu perubahan yang mereka lakukan tergantung arah pandangan dan wawasan mereka
sendiri, sejauh mana yang bisa mereka tempuh, dan berapa lama waktu yang mereka
butuhkan sehingga mereka dapat menyadari adanya proses untuk menjadi yang
sekarang ini.
Menjadi pribadi
seperti sekarang ini adalah pilihan. Senjata bertahan dalam pilihan adalah
keyakinan. Dan yang paling utama
mendekatkan diri kepada Tuhan, satu-satunya Sang Pemberi kepastian. Kejarlah
Tuhan empunya dari semua agar engkau dijauhkan dari kebimbangan.
Nonetheless… Allah swt.
Sabtu, 18 Oktober 2014
terhenti di detak jarum jam
detik berketuk
kala fikir terombang
rasa kalut terpercik bimbang
bersembunyi
di dalam raguku
entah
mengapa suasana membiru
lantunan
sayup sepi keras bergemuru
sadar
kau dan hari kala itu bertamu
akankah waktu itu dapat ku kunjungi ?,
saat berbalas risau dalam diri
layakkah harapku berkesempatan ?,
saat keyakinan sudah bermetamorfosis sebagai penyesalan…
Berada
dalam bumi genggaman Tuhanmu. Berpijak di
harta sang Penciptamu. Haturkan ribu harap untuk sang Maha Kuasamu. Bertutur doa
ucap hati kepada Sang Pengasihmu.
Patutkah
penyesalan dipertanyakan ? Pun jauh melontarkan tanya penyesalan yang
bersinggah belakangan ? Manusiawikah kita mengabaikan saat pantas tak pantas
tersekat waktu patut dipertanyakan…
Menjelang
petang berkamuflaselah diriku menjadi sosok yang baru. Bukan pribadiku, bukan
sifatku, bukan pula identitasku. Berbekal kata dan peka. Bertameng rasa semu lalu
aku ketuk hati dan emosionalku. Mencari percakapan yang terjadi malam itu, kemudian
aku pangku laptop hitamku. Menyusun bantal bak orang dewasa yang hendak
beristirahat sambil membaca buku, sampai tergerak tangan untuk unggah lagu yang
membantu menuntunku masuk ke dalam dunia itu. Aku ubah suasana ruang istirahat
ini menjadi panggung pentas drama kataku.
Saat
fikirku berjalan, tak sedikitpun perasan aku gunakan. Tak tahu, kenapa bisa aku
hiraukan…
Sampailah dimana aku bertemu dengan jiwa yang baru itu. Bercerita kata yang ku baca pada emosional ku. Sosok yang baru telah diperankan, hingga ia sampaikan bagaimana rasa itu tiba.
Bercerita kita, bersuka cita, dan tertawa bersama. Kala itu masih ku kenal kau sebagai teman baruku. beriring rotasi dan revolusi bumi, yang aku tahu temanku yakni telah dipatenkan sendiri olehku menjadi sahabatku, lalu mengapa berputar pula rasamu. Kau ciptakan percakapan yang dengan cepat aku alihkan, dan tak seharusnya aku hiraukan. Bukan tanpa alasan, melainkan ada seseorang yang lebih dahulu bercengkraman. Mungkin, kau mengurungkan niat agar kau tak merasakan jauh lebih dalam bagaimana rasanya dikecewakan. Terlebih lagi kau menanti hingga akhirnya kesempatan itu kembali, membangun puing harapan lalu-mu hingga kau masih bersedia untuk aku kecewakan, lagi.
Rotasi dan
revolusi bumi masih terjadi, hingga sebab akibatpun aku pahami. Saat semua baru
aku sadari, kau yang pernah dikecewakan, membuatku memilih untuk lebih
diyakinkan.
Tiba dimana
kebimbanganku tak tahu harus ku tuntun kemana. Gelisah aku bercerita kepada
mereka berdua. Hingga aku tak tahu meluapkan ini kemana lagi, dan aku gencar
mencari. Mencari rasa yang dulu aku abaikan, dimana aku tak tahu persimpangan
mana yang engkau temukan saat aku mulai sedikit untuk mengharapkan. Namun segera
saat ku hendak bertahan, aku terpaksa melontarkan senyuman.
Senyum yang
menyegerakan kita untuk berteman atas jawaban dari semua keraguan.
nafasku terhela ketika aku bangun dari diri yang baru.berharap diri yang sudah aku masuki menjadi pribadi yang lebih menghargai.
dedicated for D. posted for E.
Saat engkau diragukan, maka engkau diminta segera
untuk mendekatkan
diri dan berharap kepada Tuhan.
Langganan:
Postingan (Atom)