Sabtu, 17 Mei 2014


Dimanapun itu dan kapan pun itu, harapan pasti ada. Entah mengharapkan sesuatu dari seseorang, dari alam sekitar, dan tak terkecuali berharap pada Tuhanya. Berharap itu realisasinya Berdoa. Berharap seperti itu berharap seperti ini, pada kenyataanya kembali berharap untuk yang terbaik. Pada hakikatnya manusia diciptakan Tuhan untuk memohon apapun itu kepada-Nya. Pada hakikatnya manusia melakukan dan menjalankan apa saja yang sudah ditakdirkan oleh-Nya. Dan pada hakikatnya petunjuk itu sudah diberi oleh-Nya. 

Sang kuasa sampai hari akhir pun memberikan kita pilihan. Bagaimanapun itu, kita harus memilih. Memilih bukan berarti ada pengabaian, memilih melainkan kita berkomitmen. Memilih bukan sekedar tunjuk sana tunjuk sini jadi. Memilih tidak juga harus terlarut dengan banyak pertimbangan. Memilih harus berani, dan tidak harus turuti ego diri. Memilih tidak dianjurkan gengsi. Memilih bukan hanya dari hati, jangan lupa akal dan budi. Memilih tidak serta merta baik untuk diri. Dan memilih itu… menerima.

Berubah karena berharap, atau berubah untuk pilihan ? bagaimana berubah demi suatu keyakinan ?

Menanti, menunggu, identik tetapi berbeda.

Senin, 17 Maret 2014

Ada masa dimana kita mengharapkan, lalu tersimpan dalam diam.
Ada waktu dikala kita larut tapi tak sepatah diucapkan. -Wkn

Jumat, 03 Januari 2014


Sapaan angin malam beriring irama
Membisik alunan suatu suara
Berpantul cahaya, terbias garis
Merangkai drama berbalut khayal romantis
Terhenti di lukis
Suatu wajah dengan peristiwa manis
Senyum malu diatas ragu
Terlintas dia yang di rindu
Klasik, sekedar rasa rindu
Di satu muka bumi
Kita berdiri, rindu mencari
Berharap rindu menyapa mu
Dan kembali, berlari berbisik padu pada ku
Rindu terpenjara
Tak melakukan apa-apa
Ditemani dengan doa
Harap saat terlelap, waktu kita menyapa.

Selasa, 10 Desember 2013

Crossing Light


The wind blows slowly
We talked and eyes too
We talked ussually
no...
We talked usual case, but our talking runned deeply
Not those words, but the way we talked, the way we stare
We still keep hiding something
Steal time, steal looking, steal feeling.
I could read those eyes
I could feel those rhythms
I could see that smile
I could recognize that avoiding
but I couldn't deal at all these doubts
Holding and waiting  is not easy
All I know is still blury
We blur it at all
By this blury day...
whispering me, You have been in me.

Minggu, 30 Juni 2013

How rain brings small moment

Bagaimana dengan cuaca yang sejuk seperti ini ? Awan mulai bertukar warna. Kelabu dilangit, dan rintik tak tebendung oleh yang berarak. Tangan mengulur keluar jendela dan tetesan air turun. Hendak seorang datang dengan jaket yang diletakkan melindungi kepalanya. Ah, ternyata dia. "Bajumu basah, duduk dan akan ku ambilkan teh hangat".
Dia masih melepaskan senyumnya itu, senyum yang sangat lekat dengan wajahnya. "Apa yang membuatmu kemari ? Kau sendirian ?" sambil ku letakkan cangkir putih bercorak
Tampak sengaja dia tak menjawab malah dia berbicara yang lain. Aku pun ikut terlarut dalam pembicaraan di sore hari yang hujan ini. Terdengar suara dari garasi sebelah. Ayahku baru pulang ternyata. Sambil dia tutup garasinya sambil aku memberi payung menyambutnya.
"Selamat sore pak" lagi, dia memberi senyumnya dan salam kepada ayahku. Ayahku hangat "kembali bicaralah dengan temanmu, nanti lama menunggu ia pulang" ayahku bergurau. Kalimat ayah membuat kami menunduk dan tertawa kecil.
"Kau tadi belum menjawab pertanyaan ku".
"Pertanyaan yang mana ?"
"Kenapa kau baru mengembalikan buku ini sekarang ?"
"Ooh. Aku tak sengaja melihat beberapa kalimat yang kau tulis di bukumu ini."
Aku menyukai hujan dan kau juga menyukainya, bukan ?
"Aku sengaja mengembalikanya sekarang karena aku ingin menikmati hujan di sore hari bersamamu. Aku berharap kau menyukai itu" Ia melihatku dengan tatapanya dan ia lontarkan senyum tawanya sambil kembali melihat hujan.
Caranya yang tiba-tiba seperti ini, seperti yang tak ku sangka. Aku menyukainya.
di meja. "Bukumu. Aku sudah selesai membacanya." Suaranya masih sama, suara yang aku kagumi. "Maaf, jika aku terlambat mengembalikan buku mu". Ternyata dia sengaja menyimpan buku itu dan baru mengembalikannya hari ini. "Aku sengaja mengembalikan ini sekarang, karena sore ini hujan baru turun". Aku terheran "Kenapa di saat hujan seperti ini baru kau kembalikan". 


-wkn

Selasa, 25 Juni 2013



klasik, gimana ?

Sabtu, 15 Juni 2013

saat ada pertemuan, kenapa harus disatukan, bila pada akhirnya akan dipisahkan... ?

mungkin ini pertanyaan kuno, klasik, tidak menarik atau sesuatu yang mungkin tidak perlu dibicarakan.

saat menulis ini saat itu juga saya membaca beberapa pesan yang masih tersimpan disuatu jejaring sosial milik saya. sulit diungkapkan bagaimana perasaan saya ketika membaca kata-kata 'dua manusia' ini. menimbulkan gejolak yang susah untuk dibendung. gejolak gembira, senang, betapa bahagianya manusia-manusia ini saat menyapa satu sama lain. ada rasa tak ingin melanjutkan membaca ini, terhanyut rasa terharu, sedih,merindukan masa-masa ini dan ada hati kecil yang juga membacanya dengan lirih bersamaan dengan hati kecil lainya yang mempertanyakan kenapa suasana yang begitu bahagia itu berakhir jika saat-saat melaluinya begitu membuat dunia mereka bahagia.

saya tersenyum, saya tertawa membacanya, saya merasakan lagi suasana yang begitu indahnya.percakapan kalian membuat saya iri, kata-kata yang kalian keluarkan membuat saya kagum dengan kalian, begitu bahagianya kalian saat itu. kalian tanpa rasa canggung memulai untuk menyapa, tidak ada rasa canggung berbicara, mengungkapkan rasa, serta tulus saling mengagumi.

perjuangan kalian untuk saling mendengar suara yang mungkin saat itu begitu mengobati rasa kalian setelah tidak bertemu walau kurun waktu beberapa jam saja. saya begitu kagum dengan kalian, betapa indahnya suasana yang kalian ciptakaan.kalian bercerita dengan suasana hangat.

tak ada kata selain indah menggambarkan percakapan kalian.

dan suasana yang saya kagumi ini sepertinya tidak bisa saya rasakan lagi. mereka sudah memilih jalan masing-masing, tidak ada lagi percakapan indah itu, tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan tentang mereka, dan tidak ada lagi rasa yang mereka banggakan seperti dahulu.
mereka berjanji untuk membuat keadaan lebih baik lagi walaupun dengan jalan masing-masing, mereka berjanji untuk tetap berbicara walaupun dengan keadaan berbeda dan dengan suasana yang sangat kontras seperti dahulu.

pada akhirnya yang saya lihat, mereka dingin, entah kenapa keadaan antara mereka saling menjauh, seperti saling tidak mengharapkan,apakah mereka tidak mengingat bagaimana mereka dahulunya?

Tuhan, jika memang mereka tidak dapat menciptakan suasana indah itu lagi, mohon jangan buat mereka seakan tak saling kenal, izinkan mereka untuk saling sapa segera. 
dan untuk -kalian, kalian sudah dewasa, sulit untuk memulai, proses itu mutlak terjadi, dan sekarang bagaimana cara kalian menyikapi ini. kalian pasti paham, kalian pasti mengerti, jadi berhenti untuk menuruti ego diri.
dan dengan ini saya ikhlas tersenyum, terimakasih kalian, kalian sudah menjadi aku, dan dirinya:)

Minggu, 19 Mei 2013

we have our own way, we have our own decision, and we have our own day..